Beberapa tahun belakangan ini banyak para netizen Indonesia yang mengaku ateis di internet tapi belum tentu ateis didunia nyata. Mereka mengaku ateis, tapi masih menghormati poin-poin penting dalam sebuah agama dan bahkan masih belum meninggalkan pola mikir religius mereka. Pada umumnya mereka yang hanya mengaku ateis di internet ini merupakan ateis musiman yang hanya lagi ikut-ikutan trend luar negeri.
Banyak sekali kita temui baik diforum-forum dalam dan luar negeri ada netizen yang menyuarakan bahwa dia adalah seorang ateis. Pertanyaannya, apakah dia cari-cari sensasi untuk sekedar tenar doang atau apakah dia memang benar seorang ateis yang mau menyuarakan pergerakan ateis internasional?
Lalu, apa penyebabnya ateis mendapat banyak sekali lirikan simpati dari manusia saat ini? Dari masyarakat, komunitas, hingga perkumpulan warga desa?
Ateis mungkin merasa dikasihani oleh masyarakat internasional karena para ateis ini dianggap mengalami diskriminasi serta penganiyayaan ditempat tinggal mereka sehingga beberapa masyarakat yang merasa iba akhirnya membuat sebuah ruang lingkup kecil dan memberikannya kepada para ateis.
Sampai saat ini masih ada beberapa Negara yang memperlakukan hukuman mati bagi para ateis. Diantara negara-negara tesebut salah satunya adalah Iran, Pakistan, Qatar, Sudan, Saudi Arabia, dan United Arab Emirates. Beberapa Negara tersebut tidak segan-segan melakukan eksekusi mati terhadap warganya yang mengaku ateis.
Tapi melihat dari segi perkembangannya, kenapa para ateis jadi lebih berani bahkan terang-terangan mengatakan bahwa mereka adalah ateis? Jawaban pertama, karena kita hidup didunia modern dimana segala perkara akan diputuskan melalui hukum. Kita tidak hidup di zaman dimana tawanan perang mendapat eksekusi publik, para tersangka penyihir dibakar hidup-hidup dan para lolicon disiksa sampai mati. Semua ada prosesnya di dunia modern. Belum lagi ada yang namanya asas praduga tak bersalah. Jawaban kedua, pola pikir bebas. Siapapun bebas berpikir zaman sekarang. Dengan segala akses internet serta pengawasan yang minim dari orang tua, sebuah pribadi bisa berkembang ke segala arah. Positif-negatif, jahat baik. Tapi lihat sisi positifnya, kita bisa jadi lebih kreatif berkat pola pikir yang bebas ini. Namun dampak negatif yang diberikan jauh lebih besar dan mustahil untuk menghindarinya.
Akibatnya banyak orang salah kiprah dalam memilih tujuan hidup dan yang lebih parahnya lagi malah ikut-ikutan trend gila yang sudah jelas salah dan merugikan. Ateisme. Perlahan tapi pasti ajaran ini bakalan menggerogoti tubuh bangsa.
Disini kita ga bakalan bahas soal alasan seseorang menjadi ateis, konteksnya terlalu luas dan berat, tapi kita akan membahas sebuah konteks yang sama beratnya tapi sedikit lebih kecil ruang lingkupnya. APAKAH ATEIS LEBIH PINTAR?
Mungkin kalian semua berpikir, kebanyakan ilmuan itu ateis, otomatis yang ikut ateisme itu orang pintar semua. Buat kalian yang meragukan agama kalian dan mikir begini cepat-cepatlah sadar karena pola pikir seperti itu salah. Tidak ada alasan seseorang berubah jadi pintar dadakan setelah dia ngaku bahwa dia seorang ateis. Apa lo bakal jadi peringkat 1 dikelas setelah ngaku ateis didepan publik? Kan ga juga. Tapi bagaimana kalau ada orang pintar yang mengaku ateis? Ya, berarti itu urusannya dia. Tergantung kita bagaimana cara menyikapinya. Tapi kalau dia bilang "Saya jadi lebih pintar setelah saya menjadi seorang ateis" nah itu baru lo bisa ketawa sepuasnya didepan dia. Yakali ya dia mikir kalau udah gabung jadi ateis bakal dikasih pil khusus yang memaksimalkan kinerja otak kayak NZT. Yah, tapi mau gimana lagi. Kita yang pintar cuman bisa senyum sambil ngebalas pake sarkasme. Sesungguhnya senjata terbaik melawan orang bodoh itu sarkasme.
Lalu bagaimana dengan ilmuan-ilmuan itu? Apa karena dia ateis lalu dia jadi pintar? Tidak. Lalu apa? Ya belajar lah! Mereka pun belajar pagi siang malam untuk mengasah kemampuan mereka. Kalo contohnya ada yang bilang, "Orang ateis itu semuanya pintar-pintar, ya? Mereka selalu bikin inovasi terbaru yang menarik." dari situ aja udah bisa dipastiin seberapa tinggi IQ yang bilang. Opini lo bisa aja langsung diketawain para orang pintar kalau mereka dengar.
Para freethinker yang membelot dari agamanya kemudian sukses dan mengaku sebagai ateis itu semua karena mereka bekerja keras bukan karena dia ateis terus dia pintar. Banyak kok para freethinker yang tetap religius setelah mereka melakukan penemuan-penemuan baru; Galileo Galilei, Rene Descartes, Isaac Newton, dan masih banyak lagi. Lalu ada Albert Einstein tapi gue malas ngomongin dia berhubung gue seorang Anti-semite. Pernah bayangin saat dimana anak-anak kita tumbuh tanpa pengaruh dari mereka? Betapa bersihnya. Betapa sucinya. Itu bukan sekedar mimpi, harus ada seseorang yang merealisasikannya.
Kembali ke pernyataan ateis lebih pintar, sudah saatnya kita hapus mitos ini dari kepala kita. Ga ada namanya ateis yang lebih pintar dari para religius, itu semua hanya perkara ga masuk akal yang didapat dari sumber yang ga masuk akal pula. Gue secara pribadi ngaku gue bukan orang yang 100% religius dan taat beragama, ada saat dimana gue agak oleng dan keluar jalur tapi ga ada ceritanya gue ngaku sebagai seorang ateis! Sesungguhnya admin juga hanya seorang manusia.
Apakah dengan menjadi ateis akan mendapat ketenangan? Apakah dengan menjadi ateis anda cepat kaya? Apakah dengan jadi ateis kalian bisa lebih pintar? Spesial untuk para ateis bisa tolong jelaskan di kolom komentar karena gue sangat penasaran dengan pola pikir kalian dan tentunya para pembaca yang lain juga sama penasarannya. Sekedar sharing juga sih. Jadi untuk para ateis dan ateis musiman, kapan sadarnya?







memang hal seperti itu masih bs diperdebatkan lagi, tapi menurut saya pribadi, kepercayaan itu tidak secara langsung memengaruhi tingkat kecerdasan individu. Nice Info
BalasHapusuntung sy bkn atheis
BalasHapusouh ternyata seperti itu perbedaan orang ateis sama orang orang pada umumnya... mantap jiwa gan...
BalasHapusApakah dengan menjadi ateis akan mendapat ketenangan? Sejak memilih menjadi atheis, saya memang mendapat ketenangan dalam hidup. Karena saya tahu, tidak ada kekuatan seperti apapun yang bisa mempengaruhi hidup saya. Saya tidak pernah berkeluh kesah kepada makhluk khayalan di atas sana ketika ditimpa musibah. Karena pada kenyataannya, setiap musibah terjadi karena banyak sebab. Bukan karena iman saya sedang diuji oleh sesuatu yang tidak ada dan kurang kerjaan. Saya memiliki kontrol penuh terhadap hidup saya dan saya bahagia karenanya. Apakah dengan menjadi ateis anda cepat kaya? Orang beragama-pun juga tidak bisa menjamin kekayaan mereka, toh? Tapi jujur saja, selama menjadi atheis saya lebih banyak bersedekah. Karena saya tahu, tidak ada makhluk yang bisa memberi makan orang yang bersedekah kecuali saya dengan uang yang saya berikan pada mereka. Saya juga tidak peduli apakah yang meminta sedekah adalah pengemis musiman atau yang benar-benar lapar. Apakah dengan jadi ateis kalian bisa lebih pintar? Orang yang beragama-pun juga tidak bisa menjamin kepintaran mereka, toh? Namun semenjak menjadi atheis, saya merasa semua yang terjadi di dunia ini menjadi lebih masuk akal. Lebih bisa dijelaskan. Gempa tidak terjadi karena ada makhluk kurang kerjaan yang sedang menguji iman seseorang. Hujan turun bukan karena makhluk khayalan sedang berbaik hati memberikan rezeki kepada mereka yang beriman. Saya menjadi lebih banyak berpikir dengan logika ketimbang menyerahkan semua yang terjadi di dunia ini karena sudah ada yang mengatur.
BalasHapusWah makasih banyak buat sebuah review yang benar-benar menggiurkan ini. Memang saya lagi mengharapkan ada komentar panjang yang memberikan konten berkualitas, tidak diduga bisa secepat ini balasannya. Sepertinya memang tema ini yang paling enak dijadiin bahan pembicaraan. Sebagai manusia saya benar-benar tertarik dengan pola pikir @Atheis Bahagia, memang sudah saatnya ada seorang ateis yang dapat memberikan alasan logis kenapa mereka mau menyebut diri mereka ateis dan balasan anda yang barusan pun sangat menarik untuk diperbincangkan. Tidak seperti ateis-ateis yang saya temukan di forum-forum dalam negeri yang kebanyakan menolak membicarakan isu tabu seperti ini, anda @Atheis Bahagia baru saja memuaskan rasa penasaran saya sebagai manusia dan admin blog ini. Anda berani menyuarakan isi hati anda dan membacanya membuat saya merasa puas. Tapi hanya dari segi penasaran. Sebagai pribadi saya sama sekali belum terkesan dengan jawaban yang berputar-putar. Mungkin karena waktu juga kali ya makanya anda tidak bisa menulis sesuatu yang lebih spesifik, tapi kedepannya saya benar-benar berharap ada balasan yang jauh lebih menarik.
HapusSalam Anti-semite,
salam anti-semite
Hapusseperti biasa dunia maya dijadikan pelampiasan dan provokator untuk orang-orang lainnya
BalasHapus