Kasus-kasus semacam ini bukan hal baru di Indonesia. Sudah terlalu banyak contoh bahwa pintar disekolah tidak menjamin kita bisa menghadapi rintangan hidup dan seberapa kerasnya dunia nyata. Lalu apakah masih bisa disebut sekolah itu penting?
Sebelum kita membahas lebih jauh kita harus tahu terlebih dahulu tujuan kita sebagai pemuda pergi ke sekolah. Apa tujuan kita pergi sekolah? Kenapa kita harus pergi ke sekolah? Dan apa manfaatnya kita pergi sekolah? Jika ada yang orang asing yang bertanya soal itu kepada kita sudah jelas kita akan menjawab, "Sekolah merupakan modal utama untuk sukses di kehidupan." Itu adalah jawaban yang lazim kita katakan saat bertemu dengan orang asing atau saat berada di acara-acara penting. Tapi apakah akan sama pula jawabannya jika yang bertanya adalah teman baik kita atau seseorang yang dekat? Haha, tentunya tidak. Kita sebagai manusia memang sudah sepatutnya menciptakan dan membangun citra yang baik. Jadi tidak perlu heran ada yang lain dimulut dan lain dihati.
Ada yang menjawab, "Saya kesekolah karena saya berharap saya bisa mendapatkan karir yang mantap saat sudah besar nanti, dapat memenuhi kebutuhan keluarga saya, saya ingin dihargai karena saya seorang lulusan dari akademik terpandang." Tapi yang terjadi dalam realita tidak semanis apa yang kita bayangkan. Banyak hal-hal aneh yang terjadi sehingga jadi bertanya-tanya jika apa yang kita pilih itu sudah benar?
Kita sering menemukan bahwa orang yang pandai disekolah namun dalam kehidupan nyata mereka malah menjadi seorang bawahan. Seseorang yang selalu menghabiskn waktunya di perpustakaan berjam-jam dan selalu menolak ajakan teman-teman untuk pergi ke kantin, kini bekerja disebuah kantor pengacara dan kehidupannya menyenangkan. Kondisi keuangannya stabil, memiliki sebuah mobil untuk pergi bekerja, tapi ada satu masalah dikantor yaitu dia tidak tahu cara menghadapi bosnya yang suka marah-marah.
Memang sudah sewajarnya kita tidak kaget dengan hal-hal semacam ini. Film, novel, dan cerita-cerita dari orang tua kita harusnya sudah lebih dari cukup untuk membuat kita yakin bahwa sukses di sekolah belum tentu bisa sukses dikehidupan nyata.
Lalu timbul sebuah pertanyaan. Kenapa begitu?
Jawabannya cukup mudah. Kurikulum sekolah tidak didesain oleh mereka yang punya banyak pengalaman atau bakat didunia nyata. Kurikulum sekolah tidak dirancang berdasarkan kehidupan semua orang dewasa diluar sana. Kurikulum Indonesia telah dipengaruhi oleh semua jenis profesi, skill, seluruh pakar-pakar pendidikan, dan dari usulan para pemuka komunitas-komunitas ternama. Hal ini menjelaskan bahwa kurikulum ingin agar kita menjadi semua orang atau pekerjaan diwaktu yang sama (12 tahun jika dihitung dari SD-SMA).
Mereka mengatakan bahwa semua hal penting sudah ada dalam kurikulum. Mengingatkan kita bahwa kita harus berpikir secara kritis. Mereka mau kita agar selalu aktif dikelas disemua mata pelajaran baik yang kedepannya akan berguna maupun yang tidak. Mereka ingin kita agar belajar sopan santun agar kita selalu terus menuruti kehendak sekolah alih-alih melawannya. Mereka mengajarkan kita untuk mengubah ide dibanding menciptakannya. Kurikulum mengajarkan kita bahwa hormat kepada atasan adalah sesuatu yang wajib ketimbang menyuruh kita berimajinasi dan menginspirasi orang lain.
Mereka mengajarkan kita semuanya kecuali dua keahilan yang menentukan kualitas hidup kita;
- Bagaimana memilih pekerjaan yang tepat untuk skill dan kepribadian kita
- Cara membentuk hubungan yang baik dengan orang-orang disekitar kita
Mereka mengajarkan kita bagaimana mengukur lingkaran, menentukan penginderaan jauh, sebelum mereka berani mengajarkan kita pelajaran paling berharga yaitu, : Memilih pekerjaan dan membangun hubungan.
Tapi bukan berarti kita harus keluar dari sekolah dan mulai melakukan segala hal yang menurut kita baik. Untuk menciptakan hidup yang baik kita memperlukan arahan. Hidup yang baik juga membutuhkan beberapa komponen penting. Untuk kalian semua yang duduk dibangku sekolahan dan sering mempertanyakan hal ini, ini solusi yang bisa gue berikan agar kalian dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik:
"Jadilah anak yang baik sampai umur 18 tahun (tergantung kalian lulus SMA umur berapa), jangan terlalu serius mendengar atau percaya dengan apa yang mereka katakan serta jangan terlalu serius dengan apa yang mereka suruh kita pelajari. Bertemanlah, buat inner circle dengan orang-orang pilihanmu dan diwaktu bersamaan jadilah anak baik dimata orang tua serta guru-guru disekolah. Kita butuh untuk terlihat menurut, mendengar, dengan apa yang mereka katakan agar kita bisa benar-benar tahu mana yang cocok untuk kita dan mana yang tidak"
Gue rasa itu aja, sebagai senior yang baru lulus dari bangku SMA gue ucapkan terimakasih telah berkunjung ke blog ini dan semoga beruntung untuk kita semua.
Artikel terkait:
- Cara Menjadi Lebih Karismatik Dengan 4 Kebiasaan Unik
- Sudah waktunya pemuda Indonesia Sadar
- Penyebab Kesepian
referensi: theschooloflife.com







sabiii gan!!!
BalasHapusMenginspirasi gan thx info nya!
BalasHapusKeren. Iya kalo pemerintah itu terlalu nuntut kita untuk bisa dibanyak hal. Apalagi dipaksa banget sekarang sama pemerintah. Kan gak baik juga. Anak bisa berkembang sesuai dengan kemauan dia.
BalasHapusSedap artikelnya! Mending disekolah biasa aja, tapi ketika dewasa luar biasa
BalasHapusjadilah anak yang baik sampai umur 18 tahun :D
BalasHapusBener gan, sukses disekolah tidak menjamin hidup. Nice post
BalasHapusNak sekolahnya yang bener biar pinter terus jadi sukses,,,,,, Ada yang di gituin engak ....
BalasHapus