Menurut
kabar yang beredar, katanya jumlah perempuan didunia lebih banyak ketimbang
jumlah laki-laki. Jadi jangan heran kalau lo lagi jalan di mall atau pergi ke
amusement park terdapat banyak cewek-cewek cantik sepanjang mata memandang. Ada
sih yang jelek tapi ngapain juga dibahas. Cerita kali ini adalah sedikit cerita
dari pengalaman nyata gue saat ketemu cinta pandangan pertama di tempat
public.
Laki-laki
itu spesies imajinatif. Mudah kepikiran tapi malas mikir. Didunia ini ada
banyak perempuan menarik yang pernah kita temui tapi gak berani ngajak kenalan.
Perempuan-perempuan itu pun berlalu berubah jadi penampakan semata. Pasti
sekali ketemu cewek yang lo rasain pas dan gak ngajak kenalan dan membiarkan
dia berlalu pasti dalam benak lo mikir: Apa yang terjadi seandainya waktu itu
gue berani nyamperin dia?
Tapi
itu lagu lama. Ga ada ceritanya setelah lo berandai-andai tiba-tiba si cewek
datang untuk ngasih kesempatan kedua sambil ngomong, "Eh, lagi mikirin
gue, ya? Mau kenalan nggak?" ANJING kalo hidup emang semanis itu ga ada tu
yang namanya jones-jones terdampar. Admit it, hidup tidak seindah drama Korea.
Mulai
dari cewek cantik, manis, menarik, hot, ero, sampai cewek lucu pernah gue
jadiin cinta pandangan pertama. Tapi hanya sedikit yang berani gue minta
nomernya. Salah satu disekian banyak cewek tersebut, pernah ada cewek cantik
yang duduk disebelah gue dan bisa dibilang gue rada-rada nyesal ga minta
nomernya waktu itu.
Cerita
dimulai saat gue sekeluarga akan pergi ke Singapore. Awalnya ada tiga pilihan,
yaitu Thailand, Malaysia, atau Singapore. Dilihat dari sudut pandang gue,
Singapore yang berpotensi memberikan sebuah pengalaman menarik dalam masa muda.
Selain memiliki predikat Negara paling maju se-Asia tenggara, Singapore juga
merupakan salah satu Negara paling tertib didunia. Buang sampah sembarangan
denda, ngerokok sembarangan denda, godaiin bini orang pun denda. Tidak heran
pemerintahnya cepat kaya, semua pelanggaran ada dendanya.
Tapi
perjalanan menuju Singapore-lah yang membuat cerita kali ini menarik. Gue waktu
itu bersiap untuk liburan tahun baru 2016 di Singapore dan kita naik maskapai
Batik. Semua berjalan lancar sampai naik ke pesawat. Gue duduk di kursi bagian
ujung dekat lorong kecil tempat orang lewat kesana-kemari, dan tiba-tiba dari arah depan seorang
gadis dengan poni rata yang menutupi sebagian besar keningnya datang
menghampiri gue. Posisinya saat itu gue lagi ngeluarin earphone dari kantong
celana bagian belakang. Sehingga baru setengah doang yang keluar sisanya masih
nyangkut didalam.
Selayaknya
seorang gentleman, gue buru-buru bediri dan ngasih jalan agar dia bisa masuk.
Gadis tersebut tersenyum simpul kearah gue. Gue mati-matian nahan diri untuk
tidak nyengir. Biasanya kalo saking senengnya kadang-kadang gue sulit
membedakan mana yang namanya senyum sama nyengir-nyengir babi mirip Oji-san
lolicon. Gue mengulas senyum terbaik gue waktu itu dan syukurlah, dianya juga
merespon dengan baik.
Tapi
sedetik kemudian tiba-tiba dia terkekeh kecil seraya menatap celana panjang gue
lalu buru-buru menutup mulutnya dan mempersilahkan Ibunya masuk duluan agar
duduk dekat jendela. Gue mikir, apa ada yang salah sama celana gue? Perasaan baru disetrika
deh tadi pagi. Gue pun kembali duduk
ke tempat semula dan tiba-tiba bunyi KREKEK mencuri perhatian kami bertiga.
Apaan tuh? Masa iya ada tikus dipesawat? Gue nengok kiri-kanan, kebawah kursi
gue, dan sama sekali ga menemukan apa-apa. Mereka berdua pun melakukan hal yang
sama tapi hasilnya juga nihil.
Mungkin
baut kursinya yang copot atau longgar pas gue duduk makanya menghasilkan bunyi
aneh yang terserap telinga kami bertiga. Gue menyandarkan punggung kesandaran
kursi dan menyilangkan kedua tangan gue. Benar. Ini adalah masa muda. Sudah
sepatutnya nasib baek datang ke gue hari ini. Gue melirik gadis disebelah. Kalo
Tuhan memberikan hadiah harus diterima. Tidak setiap hari anugerah segini besar
muncul disekitar kita.
Gue pun
senyum-senyum sendiri. Untunglah gue ganteng, jadi dianya ga terlalu
heran-heran sendiri. Dari tempat gue duduk ada sesuatu yang rasanya nusuk-nusuk pantat. Seinget gue sih kursi pesawat Indonesia belum ada mode
mainannya. Jadi apaan nih? Gue coba maju dikit tapi rasa nusuk-nusuknya juga
masih belum ilang. Gue mundur malah lebih sakit. Gue pun bediri dan meraba-raba
apa yang sebenarnya ada di tempat duduk gue. Ga ada apa-apa kok. Gue pun duduk
lagi.
KRETEKTEK
kali ini suaranya jadi lebih keras dari yang tadi. Kedua orang disebelah gue
pun menoleh diwaktu yang nyaris bersamaan kepada gue. Heh? Bukan gue! Merasa
dicurigai akhirnya gue pun mencoba untuk mengecek lagi. Gue berdiri dan
meraba-raba kursi tempat gue duduk. Masih ga ada apa-apa..
"Itu,
dicelana." kata si tante yang duduk dekat jendela.
Setelah
ngecek kantung belakang gue sesuai instruksi tante ternyata itu adalah earphone
gue yang kegencet pantat. Bedebah. Mana yang ngasih tahu si tante lagi. Gue
buru-buru balik ke tempat duduk dan duduk bak anak ayam baru dimandiin. Gue
menetap earphone penyot yang kabelnya muntah kemana-mana. Ternyata sial masih
belum ninggalin gue.
Lanjut ke PART 2 disini






0 komentar:
Posting Komentar